|
Maraknya fenomena caleg yang stress yang terjadi pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2009 saat ini kemungkinan besar disebabkan oleh lemahnya daya tahan mental yang dimiliki oleh para caleg. Hal tersebut disampaikan Staf pengajar Fakultas Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Warih Andan Puspitosari, M.Sc., Sp.Kj., saat berdiskusi mengenai “Fenomena Stress yang Dihadapi Oleh Caleg RI”, Rabu (15/4) di Kampus Terpadu UMY. Menurut Warih, di dalam kehidupan sudah menjadi hal yang wajar apabila manusia dihadapkan pada suatu permasalahan. “Namanya juga hidup, hal yang wajar dan biasa tentunya apabila manusia akan menemui permasalahan. Namun, bagaimana manusia beradaptasi dan menghadapi permasalahan dengan bijaksana itulah yang mungkin belum dimiliki para caleg. Untuk itu, melihat fenomena semacam ini, semuanya kembali ke personal masing-masing apakah mereka memiliki daya tahan mental kuat dalam menghadapi masalah atau tidak, ” tuturnya. Untuk itu, Warih mengatakan perlunya Caleg mempunyai daya tahan mental kuat sehingga mampu beradaptasi dan menghadapi permasalahan. “Terlebih, para Caleg terpilih nantinya akan mengurus Negara yang pastinya masalah akan jauh lebih besar. Jadi, jika dalam proses daya tahan seorang caleg tidak stabil, bagaimana mengurus Indonesia yang sebesar ini,” ungkap Warih. Selain itu, Warih juga berharap agar pemerintah memberikan aturan yang lebih standar untuk persyaratan tes kesehatan fisik dan mental bagi Caleg. “Memang selama ini sudah ada persyaratan mengenai tes sehat fisik dan mental bagi Caleg, namun terkadang terdapat instrumen yang berbeda dalam setiap rumah sakit. Untuk itu, diperlukan adanya aturan yang lebih standar mengenai komponen dalam tes kesehatan tersebut. Tak sekadar secara klinis, namun juga ada tes yang dapat mengetahui karakter dasar dan potensi mental yang dimunuculkan pas tes kesehatan tersebut,” paparnya. Lebih lanjut, Warih menjelaskan penyebab stres bisa disebabkan karena beberapa faktor, baik faktor internal dan eksternal. “Dalam fenomena ini, faktor eksternal dimungkinkan mempertinggi tingkat stres para Caleg mengingat proses pencalegan saat ini tergolong besar dengan berbagai permasalahannya. Apabila Caleg tersebut merasa tertekan, bisa dimungkinkan stres dapat terjadi,” ucap Warih. Faktor eksternal tersebut, contohnya banyaknya uang yang harus dikeluarkan para Caleg dalam proses pencalegan, padahal belum tentu uang tersebut milik pribadi Caleg, termasuk harapan besar dari keluarga Caleg yang justru mengakibatkan Caleg tersebut malu apabila tidak lolos dalam Pileg. www.umy.ac.id |