| Forum Wartawan UAD Studi Banding Humas UMM |
|
Dedi mengatakan kedatangannya ke UMM untuk mempelajari cara pengelolaan media relations dan kehumasan. Rombongan diterima PR I, Drs. Mursidi, MM, PR III, Drs. Joko Widodo, M.Si, Kabiro BKLN, Drs. Soeparto, M.Pd, dan kepala Humas Nasrullah, M.Si. Acara dipandu staf khusus Humas Joko Susilo, MSi. Mursidi menyatakan, setiap studi banding sebenarnya memiliki nilai yang strategis tidak hanya bagi yang berkunjung tetapi juga bagi UMM karena UMM bisa belajar banyak dari pada tamunya. Misalnya, di UMM, organisasi Humas cukup simpel dan kecil tidak seperti di UAD yang sangat luas dan spesifik. Meski demikian, tugas dan kinerjanya menyangkut banyak aspek. Untuk itu, kata Mursidi, kerjasama antar unit di UMM sangat ditekankan. “Soal pencitraan, misalnya, semua unit bertanggung jawab bukan hanya Humas. Semua bersinergi untuk menampilkan UMM sebaik mungkin,” ungkap Mursidi. Sementara itu, Joko Widodo menekankan pentingnya melibatkan mahasiswa dalam kerja unit-unit di UMM. Mereka direkrut sebagai tenaga part time untuk memberi bekal pengalaman bekerja sekaligus menambah penghasilan. Hal ini turut membantu UMM dalam mengisi kekurangan tenaga terampil yang memiliki pengetahuan tentang UMM. “Tenaga part time di sini sangat membantu, baik untuk kerja, belajar maupun percepatan penyelesaian skripsi. Sebab mereka yang kita rekrut adalah mahasiswa yang sudah tinggal memrogram skripsi, maksimal memiliki dua mata kuliah,” kata Joko. Terkait dengan pengelolaan Humas dan media relations, para wartawan serta staf UAD banyak berdiskusi mengenai bagaimana kerja sama antara universitas dengan media. Nasrullah mengaku beruntung karena di UMM para pimpinan memiliki kepekaan media (sence of media) yang sangat baik. Selain itu, di UMM tak kurang-kurangnya isu-isu yang memiliki nilai berita (news value) yang menarik bagi wartawan. Sehingga, cara pengelolaan berita kepada media cukup mensinergikan kepentingan universitas dengan media saja. “Tentu saja kami juga perlu mendekati media sampai pada puncak pimpinannya. Kita yakinkan bahwa isu tertentu dari kampus ini sangat menarik sehingga layak diberitakan,” kata Nasrullah. Di UMM, kata Nasrullah, hampir setiap unit memiliki daya tarik berita. Jika unit tersebut tidak merilisnya, maka tugas Humas adalah menjemput bola dengan meliputnya untuk dirilis ke media massa. “Apalagi UMM juga tak pernah sepi dari event yang mengandung nilai berita tinggi, ini memudahkan kami bekerja,” lanjutnya. Seorang wartawan bertanya mengenai bagaimana mengatasi berita buruk. Baik Joko Widodo, Mursidi maupun Nasrullah sepakat bahwa UMM memiliki hubungan yang cukup dekat dengan emdia sehingga semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan dengan prinsip mengutamakan kepentingan yang lebih besar. (rka/nas)
www.umm.ac.id |